Day 6 – Jogja Malam setelah Malioboro. Saya cari camilan malam dengan suasana santai, duduk lesehan dekat Tugu sambil menunggu minuman panas. Saya mulai dengan kopi joss dan dua bungkus nasi kucing, ritmenya pelan, ngobrol dulu lalu nambah lagi. Malam Jogja terasa pas; sederhana tapi ngena.Habis menyusuri Malioboro, saya cari camilan santai yang tidak ribet. Angin malam Jogja terasa pas untuk berhenti di deretan gerobak dekat Tugu yaitu Angkringan Lik Man. Saya duduk lesehan, memesan kopi panas khas sini dan beberapa tusuk lauk kecil. Ritmenya lambat—ngobrol pelan, cicip sedikit, tambah lagi—pas untuk menutup hari tanpa buru-buru.

Kenapa Saya Datang
Saya datang dengan ekspektasi sederhana: suasana akrab, pilihan camilan ringan, dan “kopi joss” yang melegenda. Di sekitar Tugu, tempat ini sudah jadi rujukan malam bagi banyak orang—penduduk lokal dan wisatawan. Daya tariknya ada pada dua hal: kopi joss yang unik dan nasi kucing yang praktis buat dicomot sambil ngobrol. Tidak perlu aturan rumit; Kamu tinggal pilih, duduk, dan menikmati percakapan.
Intinya, kalau Kamu ingin versi klasik yang ikonik, Angkringan Lik Man tetap jadi rujukan malam di sekitar Tugu.
Baca Juga: Tahu Kupat Sido Mampir Solo: Brunch Ringan yang Nyenengin untuk Porsi Sharing
Pengalaman Makan: Dari Asap Arang ke Gigitan Pertama
Proses pesan di sini mengalir. Kamu ambil piring kecil, pilih nasi kucing dan sate-satean, lalu duduk. Untuk minuman, cukup sebut ke penjual; pesanan akan diantar. Enak dinikmati saat malam, karena udara sejuk bikin minum panas dan camilan hangat terasa lebih seimbang. Waktu menunggu pesanan untuk minuman biasanya 5–15 menit, tergantung ramai tidaknya. Saya habiskan 45–60 menit di lokasi—tempo ideal untuk mengobrol dan tambah camilan.
Kopi Joss: Hangat, Ada “Crackle” Tipis
Segelas kopi hitam diseduh, lalu sepotong arang panas dicelupkan sebentar. Ada bunyi kecil saat arang menyentuh permukaan. Aromanya tidak tajam; justru ada kesan hangat, agak karamel, dengan aftertaste bersih. Rasanya bukan soal manis-pahit ekstrem, melainkan rasa kopi yang jadi lebih lembut. Enaknya diminum pelan-pelan, sambil menunggu sisa panas turun.
Baca Juga: Kuliner Magelang

Nasi Kucing: Porsi Kecil, Rasa Nendang
Bungkus kecil ini pakai lauk sederhana: sambal, teri, atau oseng. Tekstur nasi cenderung padat agar tidak mudah buyar. Di gigitan pertama, Kamu dapat pedas-asin yang ringan. Karena porsinya kecil, Kamu bisa coba beberapa varian tanpa cepat kenyang. Strategi saya: ambil dua bungkus berbeda dulu, lalu tambah lauk tusuk.
Sate-Satean & Gorengan: Teman Ngobrol yang Serius
Sate usus yang lembut, sate telur puyuh dengan saus manis-asin tipis, sate ati-ampela sedikit smoky—semuanya cocok jadi teman minum. Gorengan (tempe, bakwan) punya kulit luar agak renyah, bagian dalamnya hangat lembut. Kalau mau rasa lebih “nyemek”, minta baceman—cita rasanya manis gurih dengan tekstur lebih lunak. Kuncinya: sedikit-sedikit tapi sering; jenis camilan begini makin enak saat ngobrol lama.
Informasi Praktis (Biar Kunjungannya Lancar)
- Enak dimakan saat: Malam (udara sejuk + minuman panas = pas).
- Jam ramai: 20.00–23.00 (lalu bergeser pelan sampai jelang tengah malam).
- Parkir motor/mobil: Tepi jalan di sekitar Tugu; datang lebih awal agar mudah dapat tempat.
- Sudah berdiri sejak: ±1969 (ikon lama yang tetap relevan).
Lihat Lokasi: google maps
Ngobrol Singkat dengan Karyawan
- Menu wajib selain kopi joss apa?
“Coba nasi kucing sambal teri, sate usus, sate telur puyuh, sama gorengan. Kombonya aman, banyak yang cari.” - Jam paling hidup di sini kapan?
“Biasanya 20.00–23.00. Setelah itu masih ada, tapi ritmenya santai.” - Pembayaran non-tunai bisa?
“Bisa, QRIS ada. Tinggal scan, tunjukin ke kami.” - Tips duduk biar nyaman?
“Kalau mau ramai dan dekat gerobak, duduk agak depan; kalau mau ngobrol lebih tenang, pilih ujung tikar yang sedikit menjauh dari lalu lintas.”
Komparasi Ringkas Angkringan Tugu
Di sekitar Tugu ada beberapa pilihan angkringan. Karakter setempat mirip: nasi kucing, sate-satean, gorengan, dan minuman panas. Bedanya, nama besar kopi joss di sini jadi magnet utama—ramai dan mudah dikenali wisatawan. Angkringan lain menawarkan variasi lauk yang nggak kalah menarik, kadang lebih sepi jadi lebih leluasa. Kalau Kamu suka atmosfer ikonik dan tidak masalah sedikit ramai, tempat ini cocok. Bila ingin suasana lebih lengang, tetangga-tetangganya layak dicoba di malam berikutnya.
Tips Kunjungan
- Datang sebelum puncak ramai (sekitar 19.30–20.00) untuk dapat posisi duduk yang enak.
- Mulai dari porsi kecil: ambil 1–2 nasi kucing + 2–3 tusuk sate, lalu evaluasi. Kalau masih ingin, tinggal tambah.
- QRIS siap sedia, tapi bawa uang tunai kecil tetap membantu saat ramai.
- Bawa tisu atau tisu basah—praktis setelah pegang lauk tusuk.
- Datang bersama keluarga? Pilih area tikar yang agak ujung supaya anak lebih leluasa.
- Sensitivitas pedas berbeda? Minta rekomendasi lauk yang tidak terlalu pedas ke penjual.
Jadi Wajib Nggak, Nih?
Wajib. Tiga alasannya jelas: vibes malam dekat Tugu, harga ramah, dan rasa khas yang tidak dimaniskan cerita. Kalau Kamu sedang lewat setelah Malioboro, singgah sebentar—seru sebagai penutup hari. Duduk lesehan, secangkir kopi panas, beberapa tusuk sate, dan obrolan yang tidak dikejar-kejar waktu—itulah paket sederhana yang bikin tempat ini susah digantikan.



