Menunggu matahari terbit di sekitar kawasan Borobudur selalu menjadi pengalaman yang magis bagi saya. Ada perasaan tenang saat melihat kabut perlahan terangkat dan cahaya keemasan mulai menyentuh relief candi atau puncak perbukitan Menoreh. Namun, jujur saja, setelah berjuang melawan kantuk dan udara dingin pagi hari, perut biasanya mulai memberikan sinyal minta diisi. Sobat Local pasti setuju kalau momen setelah sunrise hunting adalah waktu yang paling tepat untuk mencari sarapan yang hangat dan mengenyangkan. Di Borobudur, ada banyak tempat kuliner Borobudur yang menawarkan pemandangan Gunung, udara yang sejuk, lingkungan yang bersih dan asri.

Kawasan Borobudur dan Magelang sebenarnya menyimpan banyak permata kuliner tersembunyi yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Alih-alih kembali ke hotel dan menikmati sarapan prasmanan yang itu-itu saja, saya lebih suka menyusuri jalanan desa atau berkendara sedikit ke arah kota untuk menemukan rasa lokal yang autentik. Dari pengalaman saya berkeliling beberapa waktu lalu, ada tiga tempat yang menurut saya punya karakter kuat dan sangat cocok untuk melengkapi pagi Sobat Local di Magelang.

Baca juga: Sarapan Sop Senerek Pak Parto Magelang: Hangat, Ringan, Ramah Anak

Menikmati Pagi dari Ketinggian di Kedai Bukit Rhema

Kalau Sobat Local memilih menikmati matahari terbit dari Punthuk Setumbu, maka mampir ke Kedai Bukit Rhema adalah pilihan yang cukup praktis. Kedai ini berada di dalam kawasan bangunan ikonik yang sering disebut masyarakat sebagai “Gereja Ayam”. Setelah sedikit mendaki menuju bagian belakang bangunan, saya biasanya langsung menuju kedainya yang menawarkan pemandangan langsung ke arah perbukitan hijau dan sayup-sayup Candi Borobudur dari kejauhan.

Satu hal yang unik di sini adalah menu gratisannya. Biasanya, setiap tiket masuk sudah termasuk porsi Singkong Keju yang digoreng garing. Singkong ini terasa lembut di dalam namun tetap renyah di luar, pas sekali disantap sambil menyesap kopi atau teh hangat. Bagi saya, tidak ada yang mengalahkan perasaan duduk di tepi jendela kayu yang terbuka lebar, membiarkan angin pagi masuk, sambil melihat lapisan kabut yang masih menggantung di lembah. Menu makanannya pun cukup beragam dengan sentuhan tradisional yang terasa pas, tidak berlebihan, namun mampu menghangatkan suasana pagi yang tenang.

Kehangatan Sop Senerek Bu Atmo yang Melegenda – Sarapan Magelang

Jika Sobat Local ingin sarapan yang lebih berat dan berkuah, saya menyarankan untuk berkendara sedikit ke arah Kota Magelang untuk mencicipi Sop Senerek Bu Atmo. Bagi yang belum familiar, Sop Senerek adalah kuliner khas Magelang yang konon mendapat pengaruh dari budaya kuliner Belanda. Isinya cukup sederhana namun kaya rasa, terdiri dari kacang merah (yang dalam bahasa Belanda disebut snert), irisan daging sapi atau ayam, bayam, wortel, dan seledri.

Saat mangkuk pesanan saya datang, aroma kaldu yang bening namun gurih langsung tercium. Saya suka bagaimana tekstur kacang merahnya yang empuk menyatu dengan segarnya sayuran. Di sini, Sobat Local juga bisa menambah berbagai macam lauk pendamping yang tertata rapi di meja, mulai dari perkedel, tempe goreng, hingga paru sapi yang dibumbui dengan baik. Suasana warungnya yang sederhana namun selalu ramai memberikan kesan hangat khas rumah makan keluarga. Mencicipi sesendok kuah Sop Senerek di tengah udara Magelang yang masih sejuk benar-benar bisa mengembalikan energi setelah lelah berjalan kaki di area candi.

Cita Rasa Klasik Kupat Tahu Magelang “Warung Pojok”

Pilihan ketiga yang juga sering saya datangi adalah Kupat Tahu Magelang. Dari sekian banyak pilihan, Warung Pojok yang terletak di jalan utama menuju arah pusat kota memiliki tempat tersendiri di hati saya. Kupat tahu di sini memiliki keseimbangan rasa yang menarik antara manis, gurih, dan sedikit rasa asam segar dari kuah kecapnya yang encer namun kaya rempah.

Satu porsinya biasanya berisi potongan ketupat, tahu goreng yang dipotong-potong saat masih hangat, bakwan, tauge, dan irisan kubis segar. Rahasia kelezatannya bagi saya terletak pada taburan kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar dan seledri yang melimpah. Sobat Local bisa mengatur tingkat kepedasan sesuai selera. Saya sendiri lebih suka menikmatinya dengan satu atau dua cabai saja agar rasa bumbunya tetap menonjol. Tekstur tahu yang lembut berpadu dengan renyahnya kubis dan siraman kuah hitamnya menciptakan harmoni rasa yang sangat lokal. Ini adalah jenis sarapan yang membuat kita merasa benar-benar sedang berada di Jawa Tengah.

Menyusun Rute Perjalanan Pagi – Kuliner Borobudur

Agar perjalanan Sobat Local lebih nyaman, saya punya sedikit tips dalam merencanakan rute sarapan ini. Jika Sobat Local berada di area Borobudur sejak jam 5 pagi, Kedai Bukit Rhema adalah tempat transit pertama yang paling masuk akal karena lokasinya yang sangat dekat. Setelah itu, sekitar jam 8 atau 9 pagi barulah Sobat Local bisa meluncur ke arah kota untuk mencari Sop Senerek atau Kupat Tahu sebagai “sarapan kedua” atau makan siang awal.

Jangan ragu untuk bertanya pada warga lokal jika merasa bingung mencari lokasinya, karena terkadang tempat-tempat ini berada di sudut jalan yang tidak terlalu mencolok. Namun, itulah seni dari wisata kuliner, bukan? Menemukan rasa yang autentik di tempat yang sederhana justru seringkali memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan makan di restoran mewah. Pastikan juga Sobat Local membawa uang tunai secukupnya, karena beberapa warung tradisional mungkin belum menyediakan fasilitas pembayaran digital secara lengkap.

Menutup Petualangan Pagi di Borobudur –

Pada akhirnya, perjalanan ke Borobudur bukan hanya soal melihat kemegahan candi atau mengejar foto matahari terbit yang sempurna. Ini juga tentang bagaimana kita menikmati setiap detik transisi waktu dari subuh menuju pagi yang sibuk, ditemani oleh sepiring makanan hangat yang dibuat dengan sepenuh hati oleh tangan-tangan lokal. Ketiga tempat di atas adalah bagian dari cerita perjalanan saya yang selalu ingin saya bagikan kepada teman-teman.

Semoga rekomendasi ini membantu Sobat Local dalam menyusun rencana perjalanan nanti. Selamat menikmati udara pagi Magelang, selamat berburu sunrise, dan yang terpenting, selamat menikmati setiap suapan kuliner khasnya yang menenangkan hati.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply