Day 5 di Jogja, habis main pagi-pagi di area Kaliurang, saya mengarahkan mobil turun pelan menuju Warung Kopi Klotok Pakem. Perut sudah mulai lapar, tapi yang saya cari bukan sekadar sarapan, melainkan rasa “rumah” dalam bentuk nasi hangat dan lauk kampung. Anak saya sudah ribut dari mobil, “Nanti aku pilih lauk sendiri ya?” dan di situlah terasa bedanya tempat ini: sarapan rumahan, nasi ambil sendiri, sambil lihat sawah. Begitu parkir di halaman yang cukup luas, suasana ndeso langsung menyapa.
Baca Juga : Kuliner Magelang di Borobudur

Day 5 di Jogja: Sarapan Rumahan Setelah Main di Kaliurang
Buat kamu yang lagi liburan di Jogja dan habis keliling Kaliurang pagi-pagi, Warung Kopi Klotok Pakem ini rasanya jadi “pit stop” yang pas. Setelah udara sejuk lereng Merapi, rasanya enak banget turun sebentar, isi energi dengan sarapan ala warung ndeso yang hangat dan sederhana.
Di sini suasananya benar-benar rumahan: bangunan bergaya joglo, meja kayu panjang, jendela kayu terbuka, dan di bagian belakang terhampar view sawah yang bikin kamu pengin duduk lebih lama. Menurut saya, momen terbaik buat makan di sini adalah pagi–siang, ketika udara masih sejuk dan cahaya matahari belum terlalu terik, jadi kamu bisa menikmati suasana luar tanpa gerah.
Anak saya pun terlihat nyaman. Begitu masuk, dia langsung lihat deretan lauk kampung di meja saji dan sibuk menunjuk, “Ini mau, itu mau.” Sarapan jadi bukan sekadar makan, tapi semacam ritual kecil: pilih lauk sendiri, duduk bareng keluarga, dan ngobrol santai tanpa tergesa.
Kenapa Saya Akhirnya Ikut Antre di Warung Kopi Klotok Pakem
Secara konsep, Warung Kopi Klotok sebenarnya “cuma” warung ndeso dengan lauk kampung dan masakan rumahan. Tapi justru itu poin utamanya. Di kota-kota besar, kita sering disuguhi menu yang rumit dan plating cantik, sementara di sini, daya tariknya ada di kesederhanaan yang dikerjakan dengan serius.
Saya datang dengan ekspektasi: sarapan nasi, sayur lodeh atau sejenisnya, ditambah lauk goreng dan sambal yang pedasnya pas. Tapi ada dua hal lain yang bikin saya mau ikut antre lama-lama:
- Ritme makan yang pelan – kamu ambil makanan sendiri, cari tempat duduk, lalu menikmati piringmu sambil melihat sawah.
- Suasana ndeso yang “niat” – dari cara masak, tampilan dapur, sampai deretan panci dan wajan besar yang berisi lauk-lauk rumahan.
Jadi, ketika melihat antrean yang cukup mengular, saya justru merasa, “Oke, ini bagian dari pengalaman.” Menurut info di lokasi, waktu tunggu di jam ramai bisa 20–40 menit, dan memang terasa seperti itu. Tapi buat saya, selama anak masih anteng dan suasana mendukung, antre ini masih masuk kategori wajar.
Pengalaman Sarapan Ndeso di Warung Kopi Klotok Pakem : Ambil Nasi Sendiri, Lauk Kampung Menggoda
Begitu giliran kami mendekati meja saji, barulah terasa inti dari pengalaman di warung ini. Sistemnya sederhana: kamu ambil piring, ambil nasi sendiri, lalu pilih lauk dan sayur yang sudah ditata di meja panjang.
Rasa dan Tekstur Lauk Rumahan yang Bikin Kangen

Lauk-lauk di sini tipenya masakan kampung: ada sayur berkuah santan, tumisan sederhana, gorengan, dan aneka lauk protein dari telur sampai ayam. Bukan yang tampil mewah, tapi yang bikin kamu teringat masakan ibu atau nenek di rumah.
- Sayuran berkuah terasa gurih, tapi tidak berlebihan, cocok dimakan pagi hari.
- Lauk goreng seperti tempe atau ayam punya tekstur renyah di luar, lembut di dalam, tidak terlalu berminyak.
- Sambal disajikan dengan gaya rumahan, pedas tapi masih nyaman untuk makan pagi.
Yang saya suka, porsi di sini bisa kamu atur sendiri. Mau nasi sedikit tapi lauk agak banyak? Bisa. Mau fokus di sayur dan gorengan saja? Juga tidak masalah. Buat keluarga, ini menyenangkan karena setiap orang bisa “meracik” piring sarapannya sesuai selera, tanpa perlu banyak kompromi.
Anak saya, misalnya, memilih nasi, telur goreng, dan sedikit sayur yang tidak pedas. Saya sendiri mengambil nasi, sayur berkuah, lauk goreng, dan sambal sedikit. Semua tersaji di piring yang sederhana, tapi ketika suapan pertama masuk, rasanya pas: hangat, gurih, dan familiar.
Alur Antre, Ambil Makan, sampai Habis di Piring
Kalau mau jujur, salah satu kunci menikmati warung kopi klotok pakem ini adalah menerima bahwa antre itu bagian dari cerita. Kurang lebih alurnya seperti ini:
- Parkir dulu di area yang cukup luas. Untuk mobil dan motor, tempatnya lega, jadi tidak perlu terlalu khawatir.
- Masuk dan pastikan dulu kursi – sering kali ada anggota keluarga yang “jaga” tempat duduk, sementara yang lain antre makanan.
- Antre di meja saji sekitar 20–40 menit saat jam ramai. Di jam lebih lengang, tentu bisa lebih cepat.
- Ambil nasi dan lauk sendiri, lalu langsung menuju kasir untuk hitung total dan bayar.
- Setelah itu, baru duduk dan menikmati piring sarapan sambil menghadap sawah.
Total waktu yang saya habiskan di sini sekitar 45–60 menit sejak turun dari mobil sampai selesai makan. Tidak sebentar, tapi ritmenya terasa pelan dan menyenangkan untuk ukuran sarapan keluarga.
Info Praktis Buat Kamu yang Baru Pertama Kali Datang ke Warung Kopi Klotok Pakem
Biar kamu bisa membayangkan lebih jelas, ini beberapa hal praktis yang saya catat di lokasi:
- Enak dimakan saat: paling pas pagi–siang, terutama setelah kamu main di area Kaliurang atau sekitarnya.
- Jam ramai: sekitar 08.00–10.00 pagi. Di jam ini, antrean biasanya padat, dan beberapa lauk favorit bisa cepat habis.
- Parkir motor/mobil: luas, jadi masih nyaman untuk yang datang pakai mobil keluarga atau rombongan kecil.
- Sudah berdiri sejak: sekitar ±2015, jadi bukan tempat baru yang “lagi coba-coba”, tapi juga belum terlalu lama sampai terasa jenuh.
- Waktu menunggu pesanan: secara keseluruhan 20–40 menit, terutama di jam prime time.
- Durasi di lokasi: rata-rata 45–60 menit, tergantung kamu mau duduk santai berapa lama.
Lihat Lokasi : google maps
Buat keluarga dengan anak, suasana di sini cukup bersahabat. Anak bisa ikut pilih lauk, belajar antre, dan menikmati suasana sawah setelah makan. Selama kamu tetap mengawasi, tempat ini terasa aman dan ramah keluarga.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan: Biar Gak Kecolongan Menu Habis
Saya sempat ngobrol sebentar dengan salah satu karyawan di area saji, lebih ke tanya-tanya singkat supaya tahu pola ramainya seperti apa. Kurang lebih rangkumannya begini:
- Menu cepat habis: biasanya beberapa lauk favorit dan gorengan hangat laris duluan di jam 08.00–10.00, terutama di akhir pekan dan musim liburan.
- Antre terpadat: terjadi di jam sarapan ke jam brunch, sekitar 08.00–10.00, kadang bisa sedikit melebar kalau banyak rombongan.
- Reservasi rombongan: rombongan besar disarankan konfirmasi dulu sebelum datang, terutama jika ingin duduk berdekatan dan datang di jam ramai.
- Tempat duduk terbaik: banyak yang suka duduk di area belakang dekat sawah, karena angin lebih sejuk dan pemandangannya menenangkan; tapi spot ini juga paling cepat terisi.
Dari obrolan singkat itu, saya jadi paham kenapa antre terlihat “panjang tapi tertib”. Sistemnya sudah terbentuk, tinggal kita yang menyesuaikan ritme.
Baca Juga : Gudeg Yu Djum Wijilan: Sarapan Legendaris yang Manis-Gurih di Pagi Jogja
Dibanding Warung Ndeso Lain di Sekitar Merapi, Bedanya di Mana?
Di sekitar area Merapi dan Kaliurang, ada cukup banyak warung ndeso dengan konsep mirip: lauk rumahan, suasana desa, dan pemandangan hijau. Salah satu yang sering disebut sebagai alternatif adalah warung-warung Merapi sejenis.
Buat saya, perbandingannya kira-kira seperti ini:
- Warung Kopi Klotok Pakem:
- Kuat di branding suasana ndeso dan view sawah.
- Sistem ambil makan sendiri terasa unik dan menyenangkan.
- Antreannya memang cukup legendaris, tapi itu juga yang bikin pengalaman terasa “lengkap”.
- Warung Merapi sejenis:
- Bisa jadi lebih lengang di hari-hari tertentu.
- Menu dan suasana sama-sama kampung, tapi setiap tempat punya karakter sendiri.
- Cocok untuk kamu yang ingin nuansa lebih tenang dan tidak masalah dengan view yang sedikit berbeda.
Intinya, saya tidak merasa perlu menjatuhkan salah satu. Justru enak kalau kamu punya waktu mencoba beberapa warung ndeso di area ini. Warung Kopi Klotok bisa jadi pilihan utama, sementara warung Merapi lain bisa jadi cadangan kalau antrean di sini terlalu panjang buat seleramu.
Tips Datang ke Warung Kopi Klotok Pakem Biar Gak Kaget Antrian
Supaya pengalamanmu tetap enak dan tidak berubah jadi bete karena antre, ini beberapa tips yang menurut saya cukup membantu:
- Datang lebih pagi dari jam ramai. Kalau bisa, tiba sebelum atau sekitar jam 08.00, sebelum antrean memanjang.
- Bagi peran dalam keluarga. Satu orang antre makanan, yang lain cari atau jaga tempat duduk, terutama kalau bawa anak kecil.
- Siapkan opsi lauk cadangan. Karena beberapa menu cepat habis, jangan terlalu ngeyel harus satu lauk tertentu. Fokus ke pengalaman makan rumahan, bukan cuma satu jenis lauk.
- Pakai pakaian yang nyaman. Kamu akan cukup banyak berdiri saat antre, jadi pakai pakaian dan alas kaki yang enak buat bergerak.
- Sabar dengan ritme tempat. Di sini ritmenya pelan. Kalau kamu datang dengan mindset serba cepat, kemungkinan besar kamu akan mudah kesal.
- Beri jeda jadwal setelah makan. Jangan pasang jadwal mepet setelah sarapan di sini. Beri waktu longgar untuk makan, foto-foto, dan istirahat sebentar.
Dengan mindset yang tepat, antre justru terasa seperti bagian dari cerita liburan, bukan hambatan.
Jadi Wajib Banget Gak Sih Sarapan di Sini?
Kalau kamu sedang di Jogja, apalagi menginap atau main di area Kaliurang dan sekitarnya, menurut saya Warung Kopi Klotok Pakem ini Wajib kamu masukkan dalam itinerary. Bukan karena tempatnya viral semata, tapi karena kombinasi yang jarang ketemu di kota lain:
- Rumahan – dari rasa masakan, cara saji, sampai suasana, semuanya terasa seperti makan di dapur keluarga besar.
- Porsi – kamu bisa atur sendiri seberapa banyak nasi dan lauk di piringmu, sesuai selera dan kapasitas perut.
- Suasana – view sawah, udara sejuk, dan bangunan bergaya tradisional membuat sarapan terasa lebih pelan dan mindful.
Jadi, kalau kamu siap dengan antre 20–40 menit, punya waktu sekitar 45–60 menit untuk makan dengan santai, dan suka konsep warung ndeso dengan lauk kampung, saya rasa pengalaman di sini layak dijadikan salah satu highlight di Day 5 Jogjamu.




Pingback: Bakmi Jawa di Bakmi Kadin Jogja: Legenda Kuliner Malam di Kotabaru - Local x Food