Day 4 – Solo – Malam keliling Gladag
Day 4 – Solo – Malam keliling Gladag. Setelah muter-muter area Gladag, Saya dan Kamu mencari yang hangat untuk anak—bukan makan besar, yang penting nyaman di perut. Pilihan jatuh ke Wedang Ronde Gladag, warung tenda sederhana di tepi jalan dengan wangi jahe yang langsung menyapa. Begitu duduk, suasana malam Solo terasa akrab: ramai tapi tidak riuh, pas untuk menutup hari dengan minum hangat.
Baca Juga : Kuliner Magelang di Borobudur

Kenapa Saya Datang
Yang saya cari malam itu sederhana: kuah jahe hangat yang tidak menusuk, rasa ringan yang enak disruput, dan suasana ramah keluarga. Area Gladag memang jadi lintasan enak buat kuliner malam di Solo—banyak pilihan, tapi ronde tetap juaranya untuk pemanasan. Saya juga mengincar pengalaman yang aman buat anak: porsi bisa diatur, topping fleksibel, dan kuahnya tidak terlalu pedas jahe.
Pengalaman Makan: Wedang Ronde Gladag yang Menenangkan
Begitu pesan, alurnya cepat: kita pilih isian (kacang, sumsum, campur), lalu tingkat “nendang”-nya jahe bisa diminta lebih ringan atau standar. Waktu menunggu sekitar 5–10 menit—pas buat istirahat sebentar sambil melihat uap panas dari panci.
Rasa & Tekstur
- Kuah: Benar-benar ringan—jahe terasa menenangkan, bukan yang bikin kaget di tenggorokan. Ada sensasi hangat yang perlahan menyebar, cocok untuk malam sehingga nyaman juga untuk anak.
- Bola ronde: Kulitnya empuk, tidak terlalu tebal, dengan gigitan yang lembut. Isi kacang memberi rasa gurih-manis, sementara isi sumsum lebih halus dan creamy.
- Pelengkap: Kolang-kaling kenyal ringan dan potongan roti tawar (opsional) memberikan tekstur kontras. Kalau Kamu suka tambahan roti, minta disajikan terpisah agar tidak cepat lembek.
- Aftertaste: Ada sisa rasa jahe yang halus—tidak terlalu pedas, sehingga mulut tetap segar tanpa rasa terbakar. Anak saya juga suka karena tidak “mengagetkan”.
Porsi & Kecepatan Saji
Porsinya pas untuk penghangat. Kalau ingin berbagi, pesan satu porsi dulu—jika cocok, tambah lagi. Durasi di lokasi saya sekitar 25–35 menit: cukup untuk satu porsi ronde plus ngobrol santai.
Informasi Praktis Berkunjung ke Wedang Ronde Gladag (Biar Kamu Datang di Waktu Tepat)
- Jam ramai: 19.00–22.00 (kalau mau tempat duduk lebih santai, datang sedikit sebelum pukul 19.00).
- Parkir motor/mobil: Tepi jalan—siapkan uang kecil untuk juru parkir, dan pilih spot yang tidak mengganggu arus kendaraan.
- Sudah berdiri sejak: — (informasi pastinya belum saya dapatkan; warung ini terlihat lama beroperasi, tapi saya memilih menyebut netral karena belum ada kepastian).
- Lihat Lokasi : google maps
Ngobrol Singkat dengan Karyawan
Saya sempat tanya empat hal, dan inilah ringkasan jawabannya:
- Ronde isi kacang/sumsum?
Ada dua-duanya. Bisa pesan campur atau pilih salah satu. Campur jadi favorit karena teksturnya variatif. - Level jahe bisa diatur?
Bisa. Bilang “ringan” untuk anak atau “standar” untuk sensasi hangat yang lebih terasa. Ada tambahan jahe kalau Kamu mau lebih “nendang”. - Tambahan roti tawar?
Ada dan bisa minta terpisah supaya tidak cepat lembek. - Pembayaran cashless?
Umumnya tunai lebih lancar. Kadang ada opsi dompet digital, tapi siapkan uang cash untuk berjaga-jaga.
Komparasi Ringkas
Dibanding wedang ronde lain di Solo, versi Gladag ini menonjol di kuah yang ringan dan jahe yang ramah untuk keluarga. Ada tempat yang kuah jahenya lebih pekat dan beraroma tajam—itu cocok bagi pencinta pedas jahe. Namun untuk anak atau penikmat rasa halus, Gladag memberikan keseimbangan: hangatnya terasa, tapi tidak bikin kewalahan.
Tips Kunjungan ke Wedang Ronde Gladag (Agar Pengalamanmu Makin Enak)
- Waktu terbaik: Datang sebelum 19.00 atau setelah pukul 21.00 agar lebih mudah dapat tempat duduk.
- Strategi pesan: Coba ronde campur (kacang + sumsum) untuk variasi tekstur; minta roti terpisah.
- Untuk keluarga/anak: Minta level jahe ringan; siapkan sendok kecil agar anak nyaman menyeruput kuah.
- Parkir & antre: Parkir tepi jalan; jangan terlalu lama di spot sibuk. Kalau antre, sabar sekitar 5–10 menit.
- Cash tetap penting: Meski beberapa warung mulai cashless, tunai biasanya paling aman di tenda jalanan.
- Cuaca & pakaian: Malam di Solo bisa lembap—bawa tisu atau lap kecil; pilih tempat duduk yang tidak langsung kena asap panci.
Catatan Kecil yang Berguna
- Kebersihan mangkuk & sendok terlihat terjaga; tetap baik membawa tisu basah untuk anak.
- Jika Kamu sensitif jahe, bilang di awal agar takaran jahe disesuaikan.
- Durasi 25–35 menit cukup untuk satu putaran minum hangat, tanpa terasa terburu-buru.
- Ingin rasa sedikit manis? Minta gula cair ditambahkan tipis—jangan sampai kuah menutupi aroma jahe.
Baca Juga : Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan Solo: Jajan Larut Malam yang Bikin Tenang, Kuliner 2025!
Kisah Singkat di Meja Sebelah-Wedang Ronde Gladag

Sepasang wisatawan mencoba ronde sumsum dan kelihatan kaget karena teksturnya lembut sekali—“kayak bubur kecil di dalam bola,” kata mereka. Sementara keluarga lokal memilih ronde kacang untuk rasa gurih-manis yang familiar. Menariknya, dua pilihan ini memang mencerminkan dua karakter: kacang untuk rasa tegas, sumsum untuk rasa halus.
Apakah Cocok untuk Kamu?
- Kamu yang ingin menghangatkan badan setelah keliling kota malam.
- Kamu yang bawa anak dan butuh minuman hangat yang tidak terlalu pedas jahe.
- Kamu yang suka tekstur lembut—coba isi sumsum; atau yang suka kacang—coba isi kacang untuk rasa lebih “berisi”.
“Jadi Wajib Nggak Nih, Berkunjung ke Wedang Ronde Gladag Solo?”
Wajib. Tiga klue kuncinya: hangat, ringan, keluarga. Wedang Ronde Gladag menawarkan rasa jahe yang nyaman, kuah yang tidak berat, dan pilihan isian yang fleksibel untuk semua umur. Datanglah malam hari saat Solo mulai teduh; duduk sebentar, hirup uap jahe, dan biarkan kehangatan itu menutup harimu dengan cara yang sederhana namun bermakna.




Pingback: Tahu Kupat Sido Mampir Solo: Brunch Ringan yang Nyenengin untuk Porsi Sharing - Local x Food