Angkringan Lik Man Tugu, Day 6 – Jogja – malam setelah Malioboro, saya akhirnya memutuskan berhenti sejenak sebelum balik ke hotel. Perut sebenarnya tidak lapar-lapar banget, tapi rasanya butuh camilan malam sambil menikmati suasana santai khas Jogja. Dari arah Malioboro, saya dan keluarga jalan pelan, lihat lampu-lampu kota, lalu mendekat ke area Tugu yang selalu hidup. Begitu melihat kepulan asap dari bara anglo dan deretan nasi kucing, suasana capek seharian langsung agak mencair.
Baca Juga : Kuliner Magelang di Borobudur

Kenapa Saya Pilih Angkringan Lik Man Tugu Malam Itu
Buat banyak orang, nama Angkringan Lik Man sudah hampir identik dengan kopi joss di Jogja. Saya datang dengan ekspektasi sederhana: bisa duduk santai di tepi jalan, ngemil nasi kucing, dan tentu saja mencoba kopi joss yang katanya legendaris itu.
Lokasinya di sekitar Tugu Jogja membuat tempat ini terasa sangat “Jogja banget”. Suara kendaraan yang lewat, obrolan pengunjung yang pelan tapi ramai, sampai pedagang lain yang hilir mudik, semuanya menyatu. Saya suka angkringan yang tidak terlalu dibuat-buat, dan di sini kesannya memang apa adanya: gerobak sederhana, bangku kayu, tikar di trotoar, plus deretan lauk yang bikin kamu otomatis melambatkan langkah.
Kelebihan lain dari Angkringan Lik Man adalah kombinasi kopi joss dan nasi kucing yang klasik tapi tetap relevan sampai sekarang. Kopi joss-nya jadi magnet utama, sementara nasi kucing dengan berbagai lauk kecil di atasnya membuat kamu bisa icip banyak tanpa harus langsung kenyang berat. Buat camilan malam setelah seharian eksplor kota, format begini terasa pas banget.
Lihat Lokasi : Google Maps

Pengalaman Makan di Angkringan Lik Man Tugu
Suasana Malam yang Hidup tapi Tetap Santai
Angkringan ini memang paling enak dinikmati malam hari. Lampu kuning temaram dari gerobak dan anglo bara membuat suasananya hangat, kontras dengan udara malam Jogja yang pelan-pelan mulai sejuk. Di jam-jam ramai sekitar 20.00–23.00, kursi dan tikar biasanya sudah mulai terisi. Pengunjung datang silih berganti: ada rombongan teman, pasangan, sampai keluarga kecil yang sekadar cari suasana.
Saya datang di jam yang sudah mulai ramai, tapi masih dapat tempat duduk tanpa drama rebutan. Suasananya santai: tidak ada yang terburu-buru selesai makan, orang ngobrol pelan, dan sesekali terdengar suara tawa dari sudut lain. Kalau kamu suka mengamati orang, duduk di angkringan begini bisa jadi hiburan sendiri.

Kopi Joss: Sensasi Arang Panas di Dalam Gelas
Tentu saja menu pertama yang saya pesan adalah kopi joss. Prosesnya cukup menarik untuk diperhatikan. Setelah kopi tubruk diseduh di gelas, Lik Man atau penjaga lainnya akan mengambil bara arang panas dari anglo, lalu memasukkannya langsung ke dalam gelas. Ada suara “cesss” kecil saat arang kena kopi, diikuti aroma kopi yang sedikit berubah dan muncul wangi asap tipis.
Rasanya? Kopinya tetap berkarakter, tapi tidak terlalu pahit. Ada sedikit sentuhan gosong yang ringan di belakang, tapi tidak sampai bikin eneg. Aftertaste-nya terasa hangat di tenggorokan, cocok banget diminum malam hari setelah seharian jalan kaki dari satu tempat wisata ke tempat lain. Satu gelas saja rasanya cukup untuk bikin badan lebih rileks.
Waktu tunggu untuk pesanan kopi joss dan beberapa nasi kucing saya kemarin sekitar 5–15 menit, tergantung ramai tidaknya antrean di depan gerobak. Selama menunggu, saya malah asyik mengamati cara mereka meracik kopi dan mengatur arang.

Nasi Kucing dan Lauk Sate-Satean
Selain kopi joss, bintang utama lainnya tentu nasi kucing. Porsinya kecil, jadi kamu bisa ambil beberapa bungkus sekaligus dengan lauk yang berbeda. Varian klasik seperti nasi sambal teri, nasi orek tempe, dan nasi dengan suwiran ayam jadi pilihan yang aman buat banyak orang.
Tekstur nasinya cenderung pulen, sambalnya cenderung pedas-manis dengan sedikit sensasi gurih dari teri atau lauk lainnya. Buat camilan malam, nasi kucing ini pas: tidak bikin terlalu kenyang, tapi cukup mengganjal perut. Ditambah beberapa tusuk sate usus, sate telur puyuh, atau sate kulit, piring kamu pelan-pelan akan penuh.
Polanya biasanya simpel: ambil piring, pilih nasi kucing dan sate-satean yang kamu mau, lalu duduk di bangku atau di tikar. Nanti, saat mau pulang, tinggal bawa piring kosong ke depan dan dihitung totalnya. Format makan yang santai begini yang bikin angkringan tetap dicari banyak orang.

Informasi Praktis yang Perlu Kamu Tahu
Supaya kunjungan kamu ke Angkringan Lik Man Tugu lebih tertata, beberapa hal ini penting banget:
- Waktu terbaik dan jam ramai
- Enak dikunjungi terutama malam hari, ketika udara lebih sejuk dan suasana Tugu lebih hidup.
- Jam ramai biasanya sekitar 20.00–23.00, saat orang sudah selesai aktivitas utama dan cari tempat nongkrong.
- Parkir motor dan mobil
- Parkir ada di tepi jalan sekitar area Tugu. Motor relatif lebih mudah mencari celah, sementara mobil perlu sedikit lebih sabar karena ruang parkir terbatas dan kadang harus jalan sedikit dari titik parkir ke angkringan.
- Sejak kapan berdiri
- Angkringan Lik Man disebut sudah ada sejak sekitar ±1969. Buat ukuran tempat makan kaki lima, usia ini menunjukkan konsistensi dan adanya pelanggan yang terus datang kembali.
- Lama duduk dan waktu kunjungan
- Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 45–60 menit di sini: cukup untuk pesan, makan pelan-pelan, ngobrol, dan menikmati suasana.
- Banyak pengunjung lain juga terlihat tidak buru-buru, jadi kamu bisa ambil waktu untuk benar-benar menikmati momen.
- Waktu tunggu pesanan
- Waktu menunggu makanan dan minuman biasanya sekitar 5–15 menit, tergantung ramai tidaknya.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan
Saya sempat ngobrol sebentar dengan penjaga angkringan malam itu. Dari obrolan singkat, ada beberapa hal yang menurut saya berguna buat kamu yang baru pertama kali datang:
- Menu wajib selain kopi joss
- Mereka menyebut kombinasi nasi kucing sambal teri plus sate-satean (usus, kepala, telur puyuh) sebagai paket yang paling sering diambil pengunjung. Kalau bingung, mulai saja dari situ.
- Jam paling hidup di Angkringan Lik Man Tugu
- Menurut mereka, suasana paling “hidup” biasanya antara 21.00–23.00. Di jam ini, arus pengunjung cukup deras, tapi tetap belum terlalu sesak seperti tempat nongkrong yang penuh musik keras.
- Pembayaran: apakah sudah bisa QRIS?
- Kabar baik, mereka sudah menyediakan pembayaran QRIS, meski uang tunai tetap sangat umum dipakai. Jadi kalau kamu tipe yang jarang bawa uang cash, ini memudahkan.
- Tips memilih tempat duduk
- Kalau kamu suka mengamati aktivitas gerobak dan ingin lebih mudah pesan tambahan, duduklah di bangku dekat gerobak.
- Kalau kamu datang dengan rombongan atau ingin ngobrol lebih santai, pilih tikar yang sedikit menjauh ke belakang, suasananya lebih rileks dan tidak terlalu kena lalu lalang orang.
Angkringan Lik Man vs Angkringan Tugu Lainnya
Di sekitar Tugu Jogja, ada cukup banyak angkringan lain yang juga ramai. Secara konsep, semua menawarkan hal yang mirip: nasi kucing, sate-satean, teh panas, kopi, plus suasana malam di tepi jalan.
Yang membuat Angkringan Lik Man Tugu terasa sedikit berbeda adalah:
- Identik dengan kopi joss – Banyak orang pertama kali mengenal kopi joss justru dari nama Lik Man. Jadi, buat yang ingin “paket lengkap” kopi joss plus suasana klasik, tempat ini sering jadi pilihan awal.
- Usia yang sudah lama – Dengan sejarah sejak sekitar akhir 1960-an, ada kesan “lawas” yang masih terjaga. Pengunjung lama kadang datang lagi karena nostalgia.
- Posisi dan alur pengunjung – Letaknya yang strategis membuat arus orang datang dan pergi cukup konstan. Kamu bisa merasakan perpaduan wisatawan dan warga lokal dalam satu tempat.
Bukan berarti angkringan lain di sekitar Tugu tidak menarik. Beberapa di antaranya menawarkan variasi lauk lebih banyak atau suasana yang sedikit lebih sepi. Tapi kalau kamu baru pertama kali ke Jogja dan hanya punya satu malam untuk mencoba angkringan di area Tugu, Angkringan Lik Man Tugu adalah pilihan yang aman dan cukup representatif.
Tips Santai Menikmati Angkringan Lik Man Tugu
Supaya pengalaman kamu di sini maksimal, beberapa tips sederhana ini bisa membantu:
- Datang sedikit sebelum jam paling ramai
- Kalau ingin suasana yang sudah hidup tapi masih mudah cari tempat duduk, coba datang sekitar 19.30–20.00. Kamu bisa lihat tempat pelan-pelan mulai penuh tanpa harus berdiri dulu.
- Mulai dengan porsi kecil, lalu tambah
- Karena formatnya nasi kucing dan lauk kecil, ambil 2–3 bungkus dulu dengan beberapa tusuk sate. Kalau masih lapar, tinggal tambah. Cara ini membuat kamu bisa mencoba lebih banyak variasi tanpa langsung kekenyangan.
- Perhatikan posisi duduk jika bawa anak
- Kalau datang bersama anak, pilih tikar atau bangku yang agak sedikit menjauh dari jalan, supaya lebih aman dan anak tidak terlalu dekat dengan kendaraan yang lewat.
- Siapkan jaket tipis
- Malam di area Tugu bisa terasa agak berangin. Jaket tipis akan membuat kamu lebih nyaman duduk lama sambil menyeruput kopi.
- Manfaatkan QRIS tapi tetap bawa tunai
- Walaupun sudah bisa bayar non-tunai, bawa uang tunai tetap berguna, apalagi kalau kamu lanjut jajan ke tempat lain di sekitar Tugu.
- Jangan buru-buru pulang
- Salah satu nilai utama makan di angkringan itu justru di suasananya. Setelah selesai makan, nikmati dulu beberapa menit tambahan untuk sekadar mengamati sekitar atau ngobrol pelan-pelan.
Jadi Wajib Nggak Nih Mampir ke Angkringan Lik Man Tugu?
Kalau kamu sedang di Jogja, khususnya main ke area Malioboro dan Tugu, menurut saya mampir ke Angkringan Lik Man Tugu itu wajib. Bukan karena tempat ini paling heboh atau paling nyentrik, tapi justru karena ia menawarkan paket lengkap yang sederhana:
- Vibes malam Jogja yang terasa akrab dan menenangkan di tepi jalan.
- Harga yang murah sehingga kamu bisa coba banyak jenis lauk dan nasi kucing tanpa takut bon membengkak.
- Pengalaman khas mencicipi kopi joss dan format angkringan tradisional yang masih bertahan sampai sekarang.
Buat saya pribadi, satu malam di Angkringan Lik Man adalah cara yang menyenangkan untuk menutup hari panjang di Jogja. Kalau kamu sedang menyusun itinerary, selipkan satu slot malam untuk duduk di sini: tidak ribet, tidak formal, tapi cukup untuk membuat kamu merasa, “Oke, ini memang Jogja.”



