Halo Sahabat Local! Jumpa lagi dengan saya, Faisal. Bagi seorang pengelola kedai kopi kecil seperti saya, mempelajari sejarah kopi ibarat belajar merangkai peradaban. Jika di Aceh kita punya tradisi kopi saring yang islami dan patriotik, maka saat kita bergeser ke tanah Deli (Medan), kita akan disambut oleh tradisi Kopitiam kedai kopi medan (Kedai Kopi Tionghoa-Melayu) yang kental akan nuansa perniagaan tempo doeloe.

Sore itu, di tengah rintik hujan kota Medan, saya melangkah masuk ke sebuah bangunan tua di kawasan Kesawan. Suara kipas angin besi yang berderit dan wangi kopi robusta Sidikalang yang disangrai dengan mentega seketika menyergap paru-paru saya. Duduk di atas kursi kayu bundar yang permukaannya sudah licin termakan usia, lalu menyantap sepiring roti gandum bakar berisi selai srikaya homemade dan secangkir kopi hitam (Kopi O) yang luar biasa kental. Ini bukan sekadar warung minum; ini adalah mesin waktu. Tempat ini merekam interaksi lintas generasi masyarakat Medan—mulai dari kakek saudagar hingga cucu milenialnya.

Jika Sahabat Local merindukan romansa masa lalu dan ingin mencari kedai kopi apek kopitiam jadul legendaris di medan beserta saudara-saudaranya yang seumuran, saya telah merangkum 5 kedai kopi tertua yang masih bernapas hingga detik ini.

Sebelum kita membahas racikan kopi para Apek (paman), barangkali Sahabat Local yang kebetulan mengelola bisnis sablon atau percetakan sedang mencari referensi teknis, kamu bisa membaca Panduan Sistem Penjaminan Mutu untuk Mengukur Konsistensi Hasil Cetak di Digital Printing. Informasi yang sangat berbobot! Baik, sekarang mari kita pesan secangkir Kopi Susu Panas!


1. Kedai Kopi Apek (Sang Legenda Jalan Hindu)

kedai kopi medan
kedai kopi medan

Inilah holy grail (pusaka utama) dari skena kedai kopi medan. Kedai Kopi Apek (Thong Apek) telah berdiri sejak tahun 1922 di Jalan Hindu. Dikelola oleh keturunan generasi ketiga, kedai ini mempertahankan hampir 100% ornamen aslinya.

Menu Klasik Roti Bakar Srikaya
Bintang utama di Kopi Apek bukanlah menu yang rumit, melainkan kesederhanaan. Roti tawarnya dipanggang perlahan menggunakan arang hingga permukaannya garing kecokelatan. Isiannya adalah mentega asin dan selai srikaya homemade buatan Nyonya rumah yang resepnya tidak pernah berubah selama seabad. Legit, creamy, dan beraroma pandan yang kuat.

Kopi O (Hitam) Sidikalang
Biji kopi yang digunakan adalah Robusta dari dataran tinggi Sidikalang, Sumatera Utara. Kopinya diseduh menggunakan air mendidih dari ketel leher angsa tembaga tua. Teksturnya sedikit sandy (berpasir di dasar cangkir) namun rasanya sangat tebal (full body) dan memiliki aftertaste cokelat hitam yang elegan.

2. Kopitiam Kok Tong (Pematang Siantar)

kedai kopi medan
kedai kopi medan

Meski aslinya berpusat di Pematang Siantar (berdiri sejak 1925), pengaruh dan sejarah Kopitiam Kok Tong sangat mengakar bagi masyarakat Sumatera Utara, dan kini cabangnya bisa ditemukan di berbagai titik di kota Medan.

Kopi Tanpa Ampas yang Halus
Berbeda dengan Kopi Apek yang sedikit berpasir, Kok Tong menggunakan teknik penyaringan kopi kain (mirip dengan gaya Aceh atau Hainan) sehingga hasil seduhannya sangat hitam pekat namun tanpa ampas sama sekali. Sangat ramah di lambung dan mudah diseruput.

Tumpukan Roti Tawar dan Telur Setengah Matang
Budaya sarapan (atau ngemil sore) di Kok Tong mewajibkan kita memesan sepasang telur ayam kampung setengah matang. Telur ini disajikan di mangkuk kecil, diberi merica putih dan kecap asin cap Hati Angsa. Roti tawar sobek yang tebal dicelupkan ke dalam lelehan kuning telur ini. Sebuah tradisi kuliner Inggris (Hainan-British) yang lestari di tanah Batak.

3. Kopi Massa Kok Tong (Evolusi Modern)

Ini adalah bentuk adaptasi dari keluarga besar Kok Tong untuk merangkul generasi Z dan milenial. Kopi Massa Kok Tong mengusung brand legendaris mereka ke dalam konsep bangunan dan layanan yang lebih kekinian (air conditioner, kursi empuk, colokan listrik).

Varian Es Kopi Susu Tarik
Bagi Sahabat Local yang tidak kuat minum kopi hitam panas di siang hari yang terik, Kopi Massa Kok Tong menawarkan kreasi Es Kopi Susu Tarik yang sangat digemari anak muda. Rasio susu kental manis dan susun evaporasinya ditakar pas, dikocok (ditarik) hingga berbuih kencang, dan disajikan dalam gelas tinggi besar. Sangat menyegarkan!

Menu Peranakan yang Mengenyangkan
Mereka juga menyediakan makanan berat ala peranakan seperti Kwetiau Goreng Seafood, Mie Pangsit, dan Nasi Lemak, menjadikannya pilihan tempat berkumpul keluarga besar setelah beribadah di akhir pekan.

4. Kedai Kopi Tiam (Jalan Zainul Arifin)

Kawasan Kampung Madras (dahulu Kampung Keling) yang dikenal sebagai Little India-nya Medan ternyata juga menyimpan sebuah kedai kopi bergaya peranakan Tionghoa kuno yang sangat populer: Kedai Kopi Tiam.

Perpaduan Budaya Melayu, India, dan Tionghoa
Daya tarik utama kedai ini adalah pelanggannya. Kamu bisa melihat pria keturunan Tamil India, pria Melayu bersarung, dan Apek-Apek Tionghoa duduk di meja yang sama berdiskusi dengan suara lantang. Toleransi di kedai ini luar biasa indah.

Kopi Susu Panas di Gelas Kaca Belimbing
Penyajian kopinya sangat klasik: menggunakan gelas kaca tebal bergerigi (gelas belimbing) yang dialasi piring ceper kecil bergambar bunga (saucer). Tuangkan sedikit kopi panas ke piring ceper tersebut, tiup perlahan, lalu seruput langsung dari piringnya. Itulah cara gentleman era 70-an meminum kopinya!

5. Kopi Ong (Nuansa Heritage di Kawasan Bisnis)

Terakhir, ada Kopi Ong yang sukses mereplikasi vibes kopitiam awal abad ke-20 di tengah distrik modern kota Medan. Menggunakan interior perabotan kayu antik, lukisan kaligrafi Tiongkok, dan sangkar burung.

Biji Kopi Lintong yang Eksotis
Selain Robusta Sidikalang, Kopi Ong sering mempromosikan Arabica Lintong (daerah dekat Danau Toba). Kopi Lintong dikenal dunia karena profil rasanya yang earthy, memiliki sentuhan rempah (spicy), dan tingkat keasaman (acidity) yang sangat rendah. Sangat cocok dinikmati pure black tanpa gula.

Kue Kering dan Pao
Camilan pendamping andalan di sini adalah Pao (Bakpao) kukus isi tausa (kacang merah) dan babi kecap (non-halal), serta jejeran toples kaca besar berisi biskuit mentega kuno (marie regal jadul).


Catatan Kopi Faisal: Membaca Jiwa Sebuah Kopitiam

Sahabat Local, nongkrong di kedai kopi tua menuntut ritme hidup yang melambat. Ingat tiga hal ini:
1. Lupakan Wi-Fi: Kebanyakan kedai klasik (seperti Kopi Apek) tidak menyediakan password Wi-Fi. Tujuannya agar pengunjung saling mengobrol dan bertatap muka, bukan menatap layar smartphone.
2. Berbaur Satu Meja: Jika kedai sedang penuh, adalah hal yang sangat lumrah untuk meminta izin duduk berbagi (sharing table) dengan orang asing (biasanya bapak-bapak lansia). Sapa mereka, dan kamu akan mendapat cerita sejarah kota Medan gratis dari narasumber aslinya!
3. Pesan Kopi O Kosong: Jika ingin menguji kepiawaian roaster (penyangrai) lokal, pesanlah Kopi O Kosong (Kopi hitam panas, murni tanpa gula setetes pun). Di situlah karakter asli biji kopi Sumatera akan membelai lidahmu.

Jejak peradaban perniagaan Sumatera terangkum indah dalam pekatnya secangkir kopi. Mari hargai karya para Apek dan terus hidupkan sejarah kita! Sampai jumpa di jurnal rasa saya yang lainnya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply