Halo, traveler dan food hunter! Pernah nggak sih, tiba-tiba kangen banget sama suasana dan rasa angkringan Jogja yang legendaris itu? Saya mengalaminya beberapa hari lalu. Rindu itu akhirnya membawa saya meluncur ke sebuah sudut di Serpong, mencari pelipur di sebuah gerobak sederhana dengan nama yang familiar: Gerobak Betawi Serpong. Tapi, apakah rasa angkringannya bisa mengobati rindu saya pada Gudeg Yu Djum? Atau justru ketoprak Jakarta-nya yang akan jadi bintangnya? Yuk, ikuti cerita lengkap dan review mendalam saya tentang pengalaman makan malam di sini, lengkap dengan menu spesial yang hampir saja kehabisan!
Bertemu Gerobak Betawi di Tengah Keramaian Serpong
Gerobak Betawi Serpong ini berlokasi di kawasan yang cukup ramai, tepatnya di Jalan Raya Serpong (saya sarankan kamu cek lokasi pastinya di Google Maps untuk memudahkan navigasi). Saat saya tiba menjelang maghrib, suasana sudah cukup ramai. Gerobaknya sendiri punya ciri khas merah dan kuning, dengan tulisan “Betawi” yang mencolok. Meski namanya Betawi, yang menarik, mereka juga menawarkan “Nasi Angkringan” yang jelas-jelas adalah ikon kuliner Yogyakarta. Kombinasi yang unik, bukan?

Suasana di sekitarnya sangat casual dan hangat. Meja-meja lipat berjejer di tepi jalan, diterangi lampu temaram dari gerobak dan beberapa lampu sorot. Suara gemericik air untuk mencuci piring, obrolan pengunjung, dan aroma sedap yang menari-nari di udara langsung menyambut. Ini bukan tempat untuk fine dining, tapi untuk makan lepas penat sambil merasakan denyut nadi kehidupan kota. Saya dan istri langsung mendapat tempat duduk dan segera mempelajari menu yang terpampang.
Menu Andalan: Dari Angkringan Jogja sampai Ketoprak Betawi
Menu di Gerobak Betawi Serpong ini cukup beragam, menjembatani dua budaya kuliner. Fokus utama saya tentu saja pada dua hal: Nasi Angkringan (untuk obat rindu) dan Ketoprak Jakarta (sebagai pembanding). Istri saya, yang sedang ingin sesuatu yang hangat dan lembut, memilih untuk mencoba Bubur Spesial mereka. Kebetulan banget, kata penjaganya, Bubur Spesial itu tinggal satu porsi terakhir! Kami langsung memesannya sebelum kehabisan.
1. Nasi Angkringan: Pulang Kampung atau Cuma Mirip?
Porsi nasi angkringan di sini disajikan di atas piring, bukan seperti di Jogja yang sering pakai kertas nasi atau pincuk daun. Isinya terdiri dari nasi putih, sambal korek yang pedasnya nendang, telur bacem, tempe bacem, dan suwiran ayam. Saat pertama kali mencicipi telur bacemnya, saya langsung tersenyum. Rasanya… hampir! Bumbu bacemnya meresap, manis gurih yang khas, meski mungkin tingkat kemanisan dan kekentalan kuah bacemnya sedikit berbeda dengan yang ada di Jogja. Tempe bacemnya juga lembut dan enak. Sambal korek-nya adalah pahlawan sejati—pedas, beraroma bawang putih, dan benar-benar membangkitkan kenangan. Secara keseluruhan, ini adalah interpretasi angkringan yang sangat layak dan memuaskan untuk mengobati kerinduan. Meski tidak 100% persis, esensi “makanan rumahan yang nikmat dan murah” itu berhasil dihadirkan.

2. Ketoprak Jakarta: “Oke Aja” Tapi Lebih Dari Itu
Ini dia menu yang namanya sesuai dengan branding gerobak: Ketoprak Jakarta. Saya memesan satu porsi penuh. Penampilannya menarik, dengan ketupat, tahu goreng, tauge, dan siraman saus kacang yang kental serta taburan bawang goreng. Setelah diaduk, saya menyendok sesuap. Pertama yang terasa adalah gurih dan kentalnya saus kacang. Rasanya… oke. Iya, seperti yang saya tulis di instruksi, rasanya oke aja. Tapi setelah beberapa suap, saya mulai mengapresiasi detailnya. Saus kacangnya tidak terlalu manis, lebih ke arah gurih, dan ada rasa bawang putih yang kuat. Teksturnya pas, tidak encer. Ketupatnya lembut, taugenya segar. Mungkin karena ekspektasi “Betawi”-nya tinggi, saya mengharapkan ledakan rasa yang lebih spektakuler. Tapi secara objektif, ini adalah ketoprak yang enak, memuaskan, dan porsinya cukup untuk mengenyangkan.
3. Bubur Spesial: Keberuntungan di Porsi Terakhir
Bubur Spesial yang berhasil kami rebut porsi terakhirnya ternyata adalah bintang malam itu! Bubur ayam beras merah yang disajikan panas dengan topping komplet: suwiran ayam, cakwe, kacang kedelai, irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Kuah kaldu ayamnya bening tapi sangat gurih dan berasa. Buburnya sendiri dimasak sampai benar-benar lembut dan creamy. Kombinasi tekstur renyah dari cakwe dan kacang dengan lembutnya bubur sungguh sempurna. Istri saya sangat menyukainya, dan saya yang mencicipi beberapa suap juga setuju—ini adalah bubur yang dibuat dengan serius dan hati. Sangat recommended, terutama untuk kamu yang suka sarapan atau makan malam dengan sesuatu yang hangat dan menyehatkan.
Rincian Harga: Berapa Budget yang Perlu Disiapkan?
Berbicara soal harga, Gerobak Betawi Serpong ini masuk kategori sangat terjangkau. Berikut perkiraan daftar harga berdasarkan pesanan saya:
- Nasi Angkringan: Rp 25.000 – Rp 30.000
- Ketoprak Jakarta (Besar): Rp 20.000 – Rp 25.000
- Bubur Spesial: Rp 18.000 – Rp 22.000
- Teh Botol / Es Teh Manis: Rp 5.000 – Rp 8.000
Dengan budget sekitar Rp 50.000 per orang, kamu sudah bisa kenyang dan puas mencoba lebih dari satu menu. Harga yang sangat bersahabat untuk kualitas dan porsi yang diberikan.

Rute Menuju Lokasi & Tips Berkunjung
Rute dari Pusat Serpong
Lokasi Gerobak Betawi Serpong ini cukup strategis. Jika kamu berasal dari arah BSD atau Alam Sutera, kamu bisa menuju Jalan Raya Serpong. Gerobak ini biasanya buka di sore hingga malam hari, dan sering berada di area pertigaan atau tempat parkir yang cukup luas. Saya sangat menyarankan menggunakan fitur “Live View” di Google Maps untuk memastikan, karena gerobak kaki lima kadang spesifik lokasi parkir hariannya.
Tips Agar Pengalaman Makin Asyik
- Waktu Terbaik: Datanglah antara pukul 18.00 – 20.00. Suasana sedang ramai tapi belum terlalu penuh, dan makanan masih sangat fresh.
- Pesanan Wajib Coba: Jangan lewatkan Bubur Spesial-nya! Cobalah juga sambal korek dari Nasi Angkringan, bahkan jika kamu pesan ketoprak sekalipun.
- Parkir: Tersedia area parkir seadanya di pinggir jalan. Hati-hati dan pastikan kendaraan tidak mengganggu lalu lintas.
- Pembayaran: Siapkan uang tunai, karena kemungkinan besar mereka belum menerima pembayaran digital.
- Ekspektasi: Datanglah dengan ekspektasi makan di warung kaki lima. Nikmati kesederhanaan dan autentisitas pengalamannya.
Penutup: Nostalgia yang Terobati, Perut yang Puas
Jadi, apakah kerinduan saya pada angkringan Jogja terobati setelah mampir ke Gerobak Betawi Serpong? Jawabannya: cukup terobati. Yang saya dapatkan di sini bukan replika sempurna, tetapi sebuah penghormatan yang lezat dan tulus. Ditambah dengan Ketoprak Jakarta yang “oke aja” dan Bubur Spesial yang benar-benar istimewa, kunjungan ini terasa sangat lengkap. Tempat ini adalah bukti bahwa makanan enak dan memori indah seringkali ditemukan bukan di tempat mewah, tapi di gerobak sederhana di pinggir jalan, di mana aroma sambal dan kuah kaldu berbaur dengan tawa dan obrolan. Buat kamu yang di sekitar Serpong, atau sedang dalam perjalanan dan ingin mencicipi rasa Betawi dengan sentuhan Jogja, Gerobak Betawi Serpong wajib masuk list! Sampai jumpa di review kuliner berikutnya!



